Hari yang Hujan untuk Jiwa yang Rame

•December 3, 2008 • Leave a Comment

Aku ingat betul beberapa waktu lalu orang-orang lagi menggerutu karena hujan tak kunjung datang, sawah kekeringan, sumur kerontang, banyak juga yang sampai kelaparan, bahkan meninggal gara-gara kepanasan. Kini hujan sekonyong-konyong datang, menghiasi hari-hari kita pagi dan petang, jas hujan laku, warungkopi rame, kerbau fitnes di sawah, petani tak lagi gundah, Tapi… tetap saja sebagiannya menggerutu, Banjirlah, longsorlah, angin ribut lah, udah ujan, becek ndak ada ojeg. Hujan ndak datang menggerutu, hujan datang masih juga menggerutu. Mau tahun baru gini kayaknya umat manusia mesti introspeksi, bahwa kebahagiaan itu rupanya bukan pada materi yang kita dapatkan atau dunia yang kita buru, kebahagiaan itu tidak jauh lho, kebahagiaan itu ada disini, dihati …

HARI SEPERTI APA YANG AKAN KUJALANI

Tugasku adalah menentukan hari seperti apa yang akan kujalani

Hari ini aku bisa mengeluh karena cuaca hujan

Atau aku bisa bersyukur karena rerumputan tersirami dengan gratis

Hari ini aku bisa bersedih karena tidak lagi memiliki uang

Atau aku bisa senang bahwa kondisi itu

Mendorongku untuk merencanakan belanjaku secara bijak

Dan membimbingku agar tidak bersikap boros

Hari ini aku bisa mengeluh karena aku harus pergi sekolah

Atau dengan semangat aku bisa membuka pikiranku

Dan mengisinya dengan berbagai pengetahuan baru

Hari ini aku bisa menggerutu atas kondisi kesehatanku

Atau aku bisa merasa senang bahwa aku masih hidup

Hari ini aku bisa menangis karena bunga mawar memiliki duri

Atau aku bisa bersyukur bahwa duri memiliki bunga mawar

Hari ini aku bisa bersedih karena temanku sedikit

Atau dengan bersemangat aku bisa memulai pertemanan baru

Hari ini aku bisa merengek karena harus pergi kerja

Atau bisa bergembira karena memiliki sesuatu untuk dikerjakan

Tugasku adalah menentukan macam hari yang akan kujalani

Anonymous

Sadarkah Kita?

•December 1, 2008 • 2 Comments

Tak terasa bumi tlah berputar di bulan terakhir tahun 2008 ini. Menginjak Desember kerap membuatku menggigil, karena tahun akan segera kembali berganti-itu berarti jatah hidupku tlah berkurang lagi, Juga 24 Desember aku selalu teringat peringatan tsunami Aceh di televisi-Dan sepertinya peristiwa dahsyat itu tinggal sebuah dokumen semata. Aku menggigil karena sebentar lagi umat manusia akan menyaksikan pesta pora besar-besaran diseluruh dunia-Sedangkan tragedi kemanusiaan terus berulang dan tak ada ujungnya, Thailand, teror India, krisis global jilid II, kemiskinan, perzinahan, kebinatangan dan masih banyak lagi……………………………………..Jelang 2009 ini aku kembali menggigil mengingat puisi tahun baruku yang dibuat 3 tahun lalu…

JIWA DI PERSIMPANGAN

Wahai engkau yang berdiri di persimpangan

Segeralah memilih jalan

Agar engkau cepat sampai tujuan

Janganlah engkau hanya berdiri terdiam

Terpaku di persimpangan

Bergelut dengan ketidak pastian

Tak tahu arah tujuan

Bermain – main dalam keraguan

Mengutak – atik aturan Tuhan

Kau campuradukkan kebatilan dengan kebenaran

Kau bungkus kebusukan dengan kemanisan

Kau manja kepada Tuhan dengan menggelar kemunafikan

Wahai engkau yang berdiri di persimpangan

Segeralah memilih jalan

Jika engkau tidak segera memilih jalan

Kapan engkau akan sampai ke tujuan ?

(Fee, ‘Malam Tahun Baru)

Astaghfirullah…